#65285
PARA ULAMA MEMERANGKAP UMAT MUSLIM MELALUI TAQLID

Ketika memberi nasehat kepada kaum muslim dan selalu membantu mereka adalah merupakan kewajiban bagi para ulama, para ulama tersebut menciptakan konsep ‘taqlid’ yang mewajibkan kaum Muslim untuk meneladani mereka dan untuk mengikuti mereka di dalam setiap langkah mereka.
Sementara yang benar adalah meneladani segala perilaku maksumin – kami menyebutnya sebagai ‘taqlid kepada maksumin’ – para ulama mengambil hak-hak ini dari Ahlul Bayt (as) dan secara tidak benar menerapkan pada diri mereka yang tidak maksum (taqlid kepada yang bukan maksum). Sesudah itu kapan pun mereka membuat kesalahan di dalam perkara-perkara keagamaan orang-orang kemudian akan mengikuti hal-hal yang salah tersebut, dan dengan demikian para ulama telah mengambil agama dari yang lemah.

Menurut wikipedia, ‘Taqlid’ berarti:
“mengikuti keputusan-keputusan dari para ahli agama tanpa perlu untuk memeriksa dasar kitab suci atau memberikan penalaran atas keputusan tersebut, seperti menerima dan mengikuti keputusan para ahli fiqih tanpa menuntut penjelasan atas proses bagaimana mereka sampai pada keputusan tersebut.”

Bagaimana Konsep Taqlid Bisa Terjadi

Sampai sebelum pada penunjukkan Ahmed Al-Hassan (as) sebagai Al Yamani, selama lebih dari 1000 tahun para ulama dari berbagai mazhab telah menjadi benteng terakhir dari agama....
Selama masa tersebut orang-orang dari kalangan Sunni maupun Syiah melihat perlunya menarik kesimpulan yang lebih jauh dari ajaran-ajaran Islam yang telah kokoh supaya dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan pada masa itu.
Adalah penganut Sunni yang merasa perlu untuk mengembangkan ajaran-ajaran Islam jauh terlebih dahulu daripada penganut Syiah karena mereka mewarisi lebih sedikit pengetahuan dari Rasulullah (SAWAS) dan keluarganya (as), dibandingkan dengan penganut Syiah yang dipandu oleh 12 Imam setelah Rasulullah wafat.
Oleh karena itu mereka mulai bertaqlid kepada Hanbal, Malik, Shafi’i, dan Abu Hanifa. Dalam masa-masa ini Sunni mengembangkan konsep taqlid ini kepada Ibn Taymiyya, Ibn Uthaymeen, Ibn Baz atau pada Sheikh di mesjid mereka. Kebanyakan Sunni yang secara aktif mengamalkan dan mempelajari kepercayaan mereka sekarang ini percaya bahwa memilih satu mazhab tertentu atau mengikuti salah satu ulama yang masih hidup adalah suatu kewajiban.
Dan bagi penganut Syiah, kurangnya pengetahuan mereka dimulai sejak Ghayba Besar dari Imam ke-12 mereka – Imam Mahdi (as) – yang bermula dari wafatnya wakil terakhir Muhammad al-Mahdi kepada Ali ibn Muhammad al-Samarri pada tahun 941. Kegaiban Imam selama lebih dari seribu tahun telah membawa banyak pertanyaan yang oleh penganut Syiah pun tak bisa dijawab juga. Hal ini menyebabkan ulama-ulama mereka mengambil alih dan memunculkan jawaban-jawaban yang berasal dari ajaran-ajaran Islam dan juga berdasarkan pemikiran mereka sendiri. Sayangnya mereka memperkenalkan konsep taqlid, sehingga sekarang baik Syiah yang terpelajar maupun yang tidak, menganggap bahwa meneladani ulama adalah wajib (Taqlid kepada Marja).
Hasil yang tidak menguntungkan dari semua ini adalah bahwa mayoritas ulama-ulama Sunni maupun Syiah, baik secara tersirat maupun tersurat, menyatakan bahwa siapapun yang menentang aturan-aturan mereka dianggap sebagai orang yang tidak beriman dan menduakan Allah (syirik). Semua Muslim yang mempelajari agama dengan lebih mendalam akan melihat bahwa hal ini adalah pendapat yang dominan di dalam ajaran Syiah maupun Sunni.

Untuk mendukung konsep-konsep mereka, mereka salah menginterpretasikan ayat-ayat Quran berikut ini...
Para ulama sering mengklaim bahwa yat-ayat berikut merujuk kepada diri mereka, padahal sebenarnya ayat-ayat tersebut mengacu kepada Ahlul Bayt (as) seperti yang dapat kita lihat pada masing-masing hadist

{Tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu (Ahli Zikir), jika kamu tiada mengetahui.} – Al Qur’an 21:7

• Al-Husayn ibn Muhammad dari Mu’alla ibn Muhammad dari al-Washsha’ dari ‘Abdallah ibn ‘Ajlan dari Abu Ja’far (as) yang telah mengatakan tentang firman Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi berikut ini. “Tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu (Ahli Zikir), jika kamu tiada mengetahui.” (Al Quran 16:43, 21:7). Rasulullah (SAWAS) telah mengatakan, “Akulah Zikir itu dan semua Imam adalah Ahli-ahli Zikir.” Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi berfirman, “Itu adalah Zikir bagimu dan bagi kaummu dan kelak kalian akan dimintai pertanggungjawaban.” (43:44). Para Imam (as) berkata, ”Kami adalah kaumnya dan kami akan dimintai pertanggungjawaban.” – H 543, Bab 20, h 1

• Diriwayatkan oleh Mirza al-Nouri dan juga oleh Sayyed Barojardi, bahwa Ali ibn Hussein (as) dan Muhammad bin Ali (as) berkata: “Keatasmulah untuk mematuhi mereka yang kepadanya kamu tidak mempunyai alasan apapun untuk tidak mematuhi mereka –kepatuhan kami Ahlul Bayt- karena Allah telah mengikat kepatuhan kami untuk patuh kepadaNya dan utusanNya. Dan Dia telah berfirman di dalam satu ayat di dalam Kitab SuciNya, dari kami dari Allah, Dia telah mewajibkan kepatuhan kepadaNya, utusanNya, dan kepada mereka yang bertanggung jawab atas keluarganya, dan Dia telah memerintahkanmu untuk bertanya kepada Ahli-ahli Zikir, dan kami, demi Allah, adalah ahli-ahli Zikir, tidak ada siapapun yang dapat berkata sebaliknya kecuali para pendusta, karena Allah telah berfirman di dalam kitabNya: {Allah telah mengirimkan kepadamu utusanNya yang membacakan kepadamu ayat Allah untuk membawa manusia yang percaya dan membawanya keluar dari kegelapan menuju cahaya}. Kamilah ahli-ahli Zikir itu, jadi kerjakanlah perintah kami dan berhentilah mengerjakan apa yang kami larang, karena kamilah pintu-pintu rumah yang Allah telah perintahkan kepadamu untuk membukanya agar dapat masuk kedalamnya, kami adalah pintu-pintu itu, dan perkara ini bukanlah bagi siapapun melainkan hanya untuk kami, dan tidak ada siapapun yang mengatakan hal ini kecuali kami.” – Mustadrak al-Wasael, Vol. 17, hlm. 28


{ {Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu} – Al Quran 4:59


Di dalam khutbahnya kepada para sahabat dari Hurr, Imam Husayn (as) menjelaskan: “Kami, keluarga Muhammad, mempunyai keutamaan yang lebih daripada mereka para ulama sesat untuk memimpin atas perkara ini terhadapmu.” – Biharul Anwar, 44:377

{Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung} – Al Quran 3:104

Ayat ini secara jelas bukanlah menyatakan para ulama secara umumnya tetapi khusus tentang orang-orang yang membuat Allah (SWT) senang dengan cara sungguh-sungguh bekerja bagiNya. Tetapi kita juga dapat aplikasikan ayat ini kepada para ulama, yang seperti kita ketahui bahwa ada ulama yang baik dan ada ulama yang korup – ulama ‘baik’ dan ulama yang ‘sesat’.

Para ulama lebih jauh mendasarkan konsep mereka pada hadist berikut ini...
Status yang tinggi dari seseorang yang mencari pengetahuan yang tujuannya hanya demi Allah (SWT) saja dan kemudian membagikannya kepada orang lain sangat ditekankan di dalam hadist Sunni maupun Syiah:

• Umar ibn Hanzalah bertanya kepada Imam Ja’far as-Sadiq, salam baginya, tentang legalitas dari dua orang Syiah yang mencari keputusan dari penguasa yang tidak sah atas pertengkaran mereka tentang hutang atau waris. Jawaban Imam adalah bahwasanya sangatlah terlarang untuk melakukan hal tersebut. Kemudian ibn Hanzalah bertanya lagi tentang apakah yang harus dilakukan oleh dua orang tersebut, dan Imam menjawab: “Mereka harus mencari satu dari kalian yang akan membacakan hadist-hadist kami, yang akan mengatakan apa yang diperbolehkan dan apa yang dilarang, yang mengetahui dengan baik hukum-hukum dan aturan-aturan kami, dan menerimanya sebagai hakim dan penengah, karena aku akan menunjuknya sebagai hakim ke atas kalian. Apabila aturan yang dia keluarkan yang didasarkan pada hukum-hukum kami ditolak, maka penolakan ini akan sama artinya dengan tidak mengindahkan perintah Allah dan menolak kami sama artinya dengan menolak Allah, dan ini sama artinya dengan menduakan Allah.”

• Imam Muhammad al-Mahdi (as) menjawab Ishaq ibn Ya’qub: “Sepanjang keadaan-keadaan baru terus terjadi, maka kamu harus berpaling (untuk mencari petunjuk) kepada perawi-perawi hadist kami, karena mereka adalah hujjah kami terhadapmu sama seperti aku yang adalah Hujjah Allah.”

• Rasulullah (SAWAS) berkata: “Ulama-ulama bagi umatku adalah seperti para nabi yang berasal dari Bani Israel.”

• Diriwayatkan bahwa Qays ibn Katheer berkata: “Seorang laki-laki akan datang dari Madinah kepada Abu’l-Darda’ di Damaskus dan ia berkata, “Apa yang membawamu kemari, saudaraku?” Ia menjawab, “Sepotong hadist yang aku dengar yang engkau ceritakan dari Rasulullah (SAWAS).” Ia bertanya, “Apakah kamu datang karena mempunyai alasan yang lain?” Ia menjawab, “Tidak.” Ia bertanya lagi, “Apakah kamu datang untuk berniaga?” Ia menjawab, “Tidak. Aku datang hanya untuk mencari hadist ini.” Ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah (SAWAS) berkata, “Barangsiapa yang mengikuti suatu jalan untuk mencari pengetahuan, niscaya Allah akan memberikan kemudahan baginya untuk mendapatkan jalan menuju ke surga. Para malaikat akan mengepakkan sayapnya tanda setuju bagi para pencari ilmu pengetahuan, dan mereka yang berada di surga dan di bumi akan memintakan ampun bagi para pencari pengetahuan (ulama), bahkan ikan yang sedang berenang di dalam air. Keunggulan para ulama terhadap para penyembah (Allah) adalah seperti keunggulan bulan terhadap semua raga surgawi lainnya. Para ulama adalah ahli waris dari para Nabi, karena para Nabi tidak mewariskan dinar atau dirham, melainkan pengetahuan, sehingga barangsiapa yang memperoleh pengetahuan sama artinya dengan mendapatkan keuntungan yang sangat besar.” – Al-Tirmidhi, 2606; diklasifikasikan sebagai sahih oleh Ulama Sunni.

• Muhammad ibn Yahyā menjelaskan, yang diceritakan oleh Ahmad ibn Muhammad ibn Īsā yang diceritakan oleh Muhammad ibn Khālid, yang kepadanya diceritakan oleh Abū Al-Bukhturi, bahwa Imām Jafar as-Sadiq (as) berkata: “Para ulama adalah ahli waris dari para nabi, karena walaupun para nabi tidak mewariskan sekeping dinār atau dirham, mereka mewariskan perkataan-perkataan dan hadist-hadist mereka. Barangsiapa, kemudian, yang memperoleh satu bagian dari hadist-hadist mereka tentu saja telah memperoleh bagian yang besar dari apa yang diwariskan para nabi tersebut. Oleh karena itu, perhatikanlah dari siapa engkau memperoleh pengetahuan ini, karena di antara kami, Keluarga Muhammad, akan selalu ada orang-orang yang adil dan jujur pada setiap generasi yang akan menolak mereka yang yang telah memutarbalikkan dan menambah-nambahkan, mereka yang memulai penerapan (praktek) yang salah, dan mereka yang memberikan interpretasi yang bodoh [orang-orang yang adil dan jujur yang akan memurnikan dan melindungi agama dari pengaruh orang-orang yang jahil dan tidak adil dan yang sejenisnya].” – Ulama Syiah Kulayni, al-Kāfi, I, 78-79

• Imām as-Sādiq (as) menjelaskan bahwa Nabi (SAWAS) berkata: “Bagi siapapun yang bepergian untuk mencari pengetahuan,Tuhan membuka jalan menuju surga, dan para malaikat merundukkan sayapnya sebagai tanda bahwa mereka mahluk yang dicintai [atau makhluk Allah yang dicintai]. Semua yang ada di surga dan di bumi, bahkan ikan yang berada di samudera, akan memintakan ampunan baginya. Keunggulan seseorang yang terpelajar terhadap para penyembah (Allah) saja dapat diumpamakan seperti keunggulan cahaya purnama atas bintang-bintang. Sesungguhnya para ulama adalah ahli waris dari para nabi (as); para nabi tidak meninggalkan bahkan sekeping dinār atau dirham; melainkan mereka mewariskan pengetahuan, dan barangsiapa yang memperoleh pengetahuan itu tentu saja telah mendapatkan bagian yang besar dari apa yang mereka (as) wariskan.” – Kulayni, Al-Kāfi, I, ii, 85-86

• Nabi Muhammad berkata: “Tinta para ulama adalah lebih berharga daripada darah seorang syuhada.” – Bukhari, Kitab Pengetahuan

• Imam Hasan al-‘Askari (as), Imam kesebelas, berkata: “Para ulama pengikut kami (Syiah) adalah penjaga Islam. Jadi, siapapun dari pengikut kami yang mengambil alih (tugas) ini adalah lebih unggul daripada mereka yang berperang di dalam peperangan melawan Romawi, (karena yang ini membela ikatan-ikatan ketuhanan dari para pengikut kami).” – Al-Ihtijaj, vol. 2, hlm. 155

• Imam Husayn (as) berkata: “... Sesungguhnya, jalan menuju masalah-masalah yang dihadapi kaum Muslim dan aturan-aturan agama berada di tangan para ulama yang shaleh, yang merupakan wali Allah dalam menentukan hal-hal yang halal dan haram...” – Tuhaful-‘Uqul, hlm.172

• Al-Kulayni meriwayatkan dari Muhammad ibn Yahya dari Ahmad ibn Muhammad dari Ibn Mahbub dari Ali ibn Abi Hamza, yang berkata: “Aku mendengar Abul Hassan, Musa ibn Ja’far (as) berkata: ‘Ketika seorang mukmin meninggal, para malaikat, di tempat-tempat di bumi dimana ia (orang mukmin) biasa menyembah Allah dan di gerbang-gerbang surga (tempat) darimana tindakan-tindakannya melambungkannya, akan menangisi dirinya. Sama halnya seperti retakan di dalam Islam yang tidak mungkin bisa diperbaiki lagi oleh apapun, karena orang-orang mukmin yang terpelajar adalah benteng Islam, sama seperti halnya dinding yang melingkari sebuah kota merupakan benteng (yang melindungi) kota.’” – Al-Kafi, 1:38

• Nabi Muhammad (SAWAS) berkata: “Orang yang paling terpelajar adalah seseorang yang mengumpulkan pengetahuan dari orang lain dengan usahanya sendiri, orang yang paling berharga adalah yang paling berilmu dan orang yang terburuk adalah orang yang bodoh/jahil.” – Sumber tidak diketahui

• Al-Saduq telah meriwayatkan di dalam Kamalul Din: Muhammad ibn Muhammad ibn Isam al-Kulayni menceritakan pada kami dari Muhammad ibn Ya’qub al-Kulayni dari Ishaq ibn Ya’qub: “Aku meminta kepada Muhammad ibn Uthman al-Amri untuk mengambil suratku yang mana di dalamnya aku telah bertanya tentang hal-hal yang menjadi masalah bagiku. Sebuah jawaban datang kepadaku dalam bentuk tulisan tangan dari tuanku, Imam pada saat ini: Dan untuk masalah-masalah yang datang berikutnya, merujuklah pada perawi-perawi dari hadist-hadist kami, karena mereka (yaitu para perawi) adalah hujjahku terhadapmu dan aku adalah Hujjah Allah terhadap mereka.” – Kamalul Deen, 2:483
Catatan: Di dalam hadist yang terakhir Imam Mahdi (as) memperingatkan para perawi hadist (sebuah penggambaran yang sekarang ini dapat diterapkan pada para ulama) bahwa sementara mereka adalah hujjah terhadap manusia, ia (Mahdi as.) adalah Hujjah Allah ke atas mereka. Artinya para perawi mempunyai tugas untuk meriwayatkan hadist dan ia (as) yang akan meminta pertanggungjawaban mereka apabila ada penyimpangan.
Y- Yamani et Yawmiates (Mémoires).

Salam, Le récipiendaire. Y-13. Il est aussi[…]

N- Nostradamus.

Salam, Au détriment des associateurs. N-7. […]