User avatar
By zeynabansari
#65771
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji hanya bagi Allah, penguasa alam semesta. Ya Allah, sampaikanlah salam dan shalawat bagi Muhammad dan Keluarga Muhammad, para Imam, dan Mahdyeen, salam ke atas mereka semua.

Keberhasilan berasal dari Allah (SWT) dan Allah (SWT) Yang Maha Mengetahui.

اللهم صلي على محمد و ال محمد الأئمة و المهديين و سلم تسليما كثيرة
Ya Ahmed Ya Abdullah Ya Mahdi. Darimu Ya Ahlul Bayt adalah kebaikan dan di dalam dirimu Ya Ahlul Bayt adalah kebaikan dan ke atasmu ya Ahlul Bayt adalah kebaikan.


APAKAH NIRWANA ITU?

Nirwana merujuk pada memadamkan api keserakahan, kebencian, dan ilusi. Ketika pencemaran emosi dan psikologis dimusnahkan oleh kebijaksanaan maka pikiran menjadi bebas, berseri-seri dan gembira dan pada saat kematiannya seseorang tidak lagi harus dilahirkan kembali.

“Satu hal dan hanya satu yang aku ajarkan, yaitu penderitaan dan menghentikan penderitaan.” –Nabi Buddha (as).
“Nirwana adalah kebahagiaan tertinggi.” – Nabi Buddha (as)

Konsep Nirwana berasal dari Nabi Buddha (as) yang mencapai Pencerahan pada umur 35 tahun yang tersadarkan akan sifat sesungguhnya dari realitas, yaitu Nirwana yang merupakan Kebenaran Absolut. Konsep Nirwana hanya bisa diterangkan kepada “yang tidak tercerahkan” melalui negasi. Oleh karena itu, Nabi Buddha (as) menerangkan konsep yang sangat dalam ini kepada salah satu muridnya. Nabi Buddha (as) bertanya apakah api ,ketika dipadamkan, dapat dikatakan telah pergi ke utara, selatan, timur atau barat.Nirwana, bagaimanapun, tidak dapat digambarkan sebagai sesuatu yang ada, tidak ada, ada dan tiada, atau tidak ada dan tidak tiada. Jawaban yang masuk akal adalah bahwa pertanyaan tersebut tidak akan pernah dapat dijawab sepenuhnya secara memuaskan, karena bahasa manusia terlalu miskin untuk mengungkapkan sifat sesungguhnya dari Kebenaran Absolut atau Realitas Tertinggi yaitu Nirwana. Nirwana adalah sesuatu yang sangat membahagiakan di dunia ini. Seseorang akan terbebas dari semua kompleksitas dan obsesi, rasa khawatir dan kesulitan yang menyiksa orang lain. Ia akan berada di dalam keadaan mental yang sempurna. Ia tidak menyesali masa lalu, tetapi juga tidak merenungi masa depan. Ia betul-betul hidup di masa kini. Oleh karena itu, ia menghargai dan menikmati segala sesuatu dengan perasaan yang paling murni tanpa proyeksi diri. Ia akan bahagia, gembira, menikmati kehidupan sucinya, panca inderanya terpuaskan, bebas dari kegelisahan, tenang dan damai. Ia terbebas dari keinginan yang egoistik, kebencian, ketidakperdulian, kecongkakan, kesombongan, dan semua kekotoran , ia menjadi suci dan lembut, penuh dengan cinta universal, kasih sayang, kebaikan, simpati, pengertian, dan toleransi. Ia melayani orang lain dengan penuh kesucian karena ia tidak pernah memikirkan dirinya sendiri. Ia tidak memperoleh keuntungan (materi) apapun, tidak menumpuk apapun karena ia terbebas dari ilusi tentang egonya dan kehausannya untuk menjadi seseorang (yang terpandang).

Pikiran
Pikiran manusia tidaklah mempunyai batas. Ilmu pengetahuan kontemporer belum menemukan bahkan 5% dari otak manusia dan kemampuan kognitifnya. Menurut Nabi Buddha (as) tidak ada pembagian antara aspek fisik dan psikologis. Sesuatu yang dialami salah satunya akan mempengaruhi yang lainnya. Nirwana dapat dikenali oleh pikiran. Dengan kata lain, pikiran manusia dapat dilatih di dalam fungsi-fungsi kognitif yang lebih tinggi. Ketika mencapai keadaan yang lebih tinggi, pikiran dapat memahami penalaran logis yang lebih maju, isu-isu moral yang tinggi dan seterusnya. Realisasi nirwana adalah sebuah bentuk dari pencapaian keadaan mental yang unggul. Ini adalah keadaan dimana sesorang mengalami kesatuan dan keutuhan dari segala sesuatu seperti apa adanya.

Mencari Nirwana
Nabi Buddha (as) mengajarkan bahwa kebaikan itu penting tetapi yang lebih penting adalah kebijaksanaan, mempunyai kebijaksanaan. Untuk mencapai Nirwana seseorang harus berpikir untuk membiasakan diri pada semua kualitas kesalehan dan mencoba mengatasi semua keburukan. Sangatlah penting untuk mencapai ini melalui jalan spiritual dan perbuatan dengan cara melakukan usaha-usaha yang baik, perbuatan yang saleh dan meningkatkan pengertian kebijaksanaan di belakang perbuata-perbuatan yang baik. Tindakan-tindakan yang bermoral dan perbuatan-perbuatan apapun yang baik kesemuanya tunduk kepada pemahaman kelahiran kebijaksanaan melalui praktek meditasi.

Cara Mencapai Nirwana
Untuk mencapai Nirwana, sangat penting untuk memahami hubungan kita dengan dunia alami dan menerima konsekuensi dari menjadi makhluk fana yang mempunyai kesadaran. Kita harus memahami sebab-sebab kognitif dan emosional dari penderitaan dan berusaha untuk mengubah pola pikir dan perilaku sehingga pikiran kita tidak dikendalikan oleh keinginan kita untuk pemenuhan kepuasan diri. Langkah-langkah tradisional untuk menggapai Nirwana seperti yang diajarkan oleh Nabi Buddha (as) memerlukan kebijaksanaan, tindakan yang bermoral, dan disiplin mental.

Kebijaksanaan
Sucikan dan perkenankanlah hati untuk memperoleh pencerahan spiritual atas sifat sesungguhnya dari segala sesuatu. Jadilah pemerhati yang kritis dan lihatlah realitas segala sesuatu seperti apa adanya, bukan pada apa yang terlihat. Sebuah sudut pandang yang didapat melalui refleksi yang dalam dan diberlakukan setelah melalui penelusuran mendalam untuk mencapai tujuan-tujuan yang paling benar.

Tindakan Yang Bermoral
Dapatkan kedamaian pikiran yang datang dari pengetahuan yaitu bahwa tindakan-tindakan kita tidak akan menyakiti mahluk hidup lainnya. Selalu bersikap jujur dan bertenggang rasa. Melakukan perbuatan yang tidak mencelakakan orang lain dan perbuatan kita tidak boleh membuat dan menambah penderitaan orang lain atau memperburuk kondisi manusia lain.

Disiplin Mental
Taklukkan atau tingkatkan kendali atas pikiran-pikiran kita. Hal ini dicapai melalui praktek kontemplasi dan meditasi. Selalu perbaiki diri sendiri. Pelihara kesadaran (awareness) pada level yang tinggi untuk melihat sesuatu seperti apa adanya tanpa membiarkannya mempengaruhi emosi kita dan kita harus membiarkan pikiran untuk mengamati dan mendapatkan pengetahuan ke dalam aliran perubahan pengalaman.
Untuk mencapai Nirwana diperlukan kebulatan tekad dan dedikasi sepanjang hidup seperti halnya yang telah dilakukan oleh para Nabi dan Ahlul Bayt (as). Nabi Buddha (as) mengajarkan orang-orang bagaimana mencapai Nirwana melalui prinsip-prinsip yang benar seperti di bawah ini, jalan utama berunsur delapan (the eightfold path) dan menerima empat kebenaran.


Empat Kebenaran Mulia – Nabi Buddha (as)
Nabi Buddha (as) berbicara tentang empat kebenaran mulia yang ia (as) temukan ketika mencapai Nirwana. Empat Kebenaran Mulia ini berisi esensi ajaran-ajaran Nabi Buddha (as).


“Aku mengajarkan penderitaan, asal mulanya, berhentinya, dan jalannya. Hanya itu yang aku ajarkan.” - Nabi Buddha (as)


Kebenaran Mulia Pertama
Kebenaran mulia pertama yang Nabi Buddha (as) jumpai dalam perjalanannya adalah Dukkha. Dukkha berarti penderitaan seperti kelahiran, pembusukan (decay), kematian, penyakit. Penderitaan ini muncul karena tidak ada yang sama terjadi seperti sebelumnya. Berpegang pada tekanan adalah seperti pasir halus yang digenggam di tangan, pasir itu akan keluar melalui jemari tangan bahkan ketika kita masih menggenggamnya.

Nabi Buddha (as) berkata, “Semua kumpulan bentuk pikiran tunduk kepada Dukkha.”

Kebenaran Mulia Kedua
Kebenaran Mulia Kedua yang Nabi Buddha (as) jumpai di dalam perjalanannya adalah munculnya penderitaan. Penderitaan tidak akan muncul tanpa sebab. Penyebab penderitaan adalah hasrat akan kenikmatan dunia, hasrat berkuasa, hasrat akan kekayaan, kenikmatan dan kemelekatan kepada konsep-konsep.
Dhammapada menyatakan: “Dari keinginan timbul kesedihan, dari keinginan timbul ketakutan; bagi orang yang telah bebas dari keinginan, tiada lagi kesedihan maupun ketakutan.”

Kebenaran Mulia Ketiga
Kebenaran Mulia Ketiga yang Nabi Buddha (as) jumpai dalam perjalanannya adalah lenyapnya penderitaan dan kesadaran bahwa pikiran, dan bukanlah tubuh, yang menderita ketika hal-hal yang tidak menyenangkan terjadi.
Nabi Buddha (as) berkata, “Bahwa Lima Kelompok Kehidupan (Panca Kandha/Five Aggregates), yang melibatkan kemelekatan adalah penderitaan.”
Lima Kelompok Kehidupan merujuk pada pikiran dan tubuh yang bersama-sama membentuk manusia. Jika ada yang berpegangan hanya pada salah satu dari keduanya sehingga menjadi “aku” atau “kepunyaanku” maka hal itu akan menyebabkan penderitaan.

Kebenaran Mulia Keempat
Kebenaran Mulia Keempat yang Nabi Buddha (as) jumpai dalam perjalanannya adalah jalan menuju pada lenyapnya penderitaan dan mencapai Niwana. Untuk mencapai Nirwana, Nabi Buddha (as) mengajarkan jalan utama berunsur delapan, jalan yang tidak pernah berakhir dan merupakan pelepasan diri dari hasrat akan kesenangan dunia dengan menghilangkannya secara berkala. Sebuah jalan yang mengarah dari keegoisan menuju altruistik, dari yang tidak nyata menjadi nyata.



Jalan Utama Berunsur Delapan (The Eightfold Path)

Jalan utama berunsur delapan terdiri dari moralitas, konsentrasi, dan kebijaksanaan untuk melengkapi Empat Kebenaran Mulia untuk mencapai pencerahan yaitu Nirwana.

Bagian Pertama dari Jalan Utama Berunsur Delapan – Moralitas

Bagian pertama dari jalan berunsur delapan mencakup ucapan benar, perbuatan benar dan berpencaharian benar untuk menunjukkan kepada orang lain kualitas hati yang mulia yaitu cinta, kasih sayang, dan kebaikan, juga agar pemurah dan toleran.


Ucapan Benar – untuk selalu berkata jujur, berfaedah, penuh kasih sayang, dan meningkatkan keharmonisan, untuk mewakili komunikasi manusiawi yang ideal yang mempersatukan.

Perbuatan Benar – Berlaku secara moral benar, terhormat, dan damai, menahan diri dari melakukan pencurian, perbuatan asusila, pembunuhan dan perbuatan curang kepada orang lain.

Berpencaharian Benar – Menyediakan kebutuhan-kebutuhan hidup, mencari pendapatan yang halal, menghindari kecurangan dan eksploitasi kekejaman.


Bagian Kedua dari Jalan Utama Berunsur Delapan – Konsentrasi

Bagian kedua dari jalan utama berunsur delapan meliputi daya-upaya benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar. Latihlah kedamaian pikiran untuk menaklukkan diri sendiri.


Daya Upaya Benar – Mengalahkan kejahatan, pikiran-pikiran yang buruk dan memerangi ego (keakuan). Tingkatkan kebaikan terhadap orang lain.
Perhatian Benar – Menegakkan keharmonisan dan kedamaian, kesiagaan pikiran, kesadaran dalam tindakan, ide, pikiran dan konsepsi.
Konsentrasi Benar –Memantau kesiagaan, bermeditasi, berefleksi dan merenungkan tentang diri sendiri.


Bagian Ketiga dari Jalan Utama Berunsur Delapan – Kebijaksanaan

Bagian ketiga dari jalan utama berunsur delapan meliputi kebijaksanaan dalam melakukan tindakan, ucapan, dan pikiran yang benar.

Pengertian Benar – memahami empat kebenaran mulia, mengerti dan menerima bahwa kita adalah pemilik perbuatan, ucapan, dan pikiran kita sendiri.
Pemikiran Benar – Menghilangkan pemikiran-pemikiran jahat, membebaskan pikiran dari pemikiran jahat untuk mengurangi penderitaan dan membangun pemikiran yang bersih dan suci.


Dhammapada ayat 1 menyatakan: “Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat, maka penderitaan akan mengikutinya, bagaikan roda pedati mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya.”

Nabi Buddha (as) mengatakan: “Janganlah melihat kesalahan yang diperbuat orang lain, jangan lihat juga apa yang orang lain sudah kerjakan atau lalaikan, tetapi lihatlah perbuatanmu sendiri, apa yang sudah kamu perbuat dan apa yang sudah kamu lalaikan.”

Salam, Mahdi l‘illettré ou ignorant. R-21. L[…]

T- La Table Servie.

Salam, La symbolique. T-14. Certains Musulma[…]

A- Nom nouveau du Mahdi.

Salam, La passation de pouvoir se fait d’homme[…]