#65782
Dua puluh tiga riwayat dari Ahlul Bayt (as) yang membuktikan bahwa Imam Musa Al-Kazim (as) adalah Al Qaim dari Keluarga Muhammad (as) dan ia (as) adalah Aba Abdillah Al Hussein (as) di dalam Raj’a nya dan ia (as) juga adalah Imam Ahmed Al Hassan (as) Pemimpin Panji-panji Hitam dari Timur (Black Banners of The East) sebagaimana yang telah diungkapkan kepada kita melaluinya (as).


Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Segala puji hanya bagi Allah Penguasa Segala Alam
Ya Allah, sampaikanlah salam dan shalawat kepada Muhammad dan Keluarga Muhammad, para Imam, dan Mahdyeen

Setelah Allah menganugerahkan kepada kita rahmat untuk mengetahui Cahaya Allah di dalam kegelapan yang melingkupi dunia ini, dan cahaya ini adalah Imam Ahmed Al Hassan (as) dan setelah kedatangan Panji Hitam dari Timur (Black Banners of The East) yang penuh berkat, Imam Ahmed Al Hassan (as) bangkit untuk mengungkapkan rahasia-rahasia Allah yang pikiran kita telah dibuat bingung olehnya sejak permulaan penciptaan alam semesta dan isinya.

Dan hari ini Imam Ahmed Al Hassan (as) mengungkapkan kepada kita rahasia-rahasia dari Raj’a yang merupakan salah satu akidah yang benar dan original di dalam ajaran Sunni dan Syiah terutama yang disebutkan di dalam beberapa ayat di dalam Al Quran dan yang juga dipercayai oleh agama-agama dan sekte kepercayaan lainnya. Dan Imam (as) memberitahukan kepada kita siapa-siapa saja yang dikembalikan lagi ke dunia (returned) dan mereka sedang bersama dengan kita sekarang.

Menurut pengetahuan yang diberikan oleh Allah, Imam Al Hussein (as) adalah Al Qaim dari Keluarga Muhammad (as) yang bangkit dengan pedangnya, tetapi bangsanya mengkhianati dan membunuhnya. Dan itulah mengapa Allah menunda perkara ini sampai kepada Imam yang ketujuh yaitu Imam Musa Al Kazim (as).

Dan sekarang marilah kita lihat beberapa dari riwayat ini yang menyebutkan tentang perkara itu:

1- Al Hassan ibn Mahboub menceritakan bahwa Abu Hamza Al Thamali berkata:
Aku berkata kepada Abu Ja’far (as): (Sesungguhnya, Ali as.) biasa berkata, “Akan ada malapetaka/kesengsaraan sampai (tahun) tujuh puluh, dan sesudah malapetaka/kesengsaraan akan ada kemakmuran.” Tetapi tahun tujuh puluh sudah lewat tetapi mengapa kita belum melihat ada kemakmuran?!
Maka Abu Ja’far (as) berkata: “Wahai Thabit, sesungguhnya Allah telah mentakdirkan perkara ini untuk terjadi di (tahun) 70, tetapi ketika Al Hussein (as) terbunuh, murka Allah menjadi sangat besar terhadap manusia dibumi, maka Allah menundanya hingga 140, lalu kami berbicara kepadamu mengenainya tetapi kamu mempublikasikan pembicaraan kami dan kamu membuka apa yang menutupi tabir sehingga Allah menundanya lagi dan setelahnya Dia tidak lagi menentukan waktu untuk kita ketahui [Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan disisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh).] {QS 13:39}”
Sumber: Ghaybat al Toosi, hlm. 428

Hadist ini sangatlah jelas, tidak dibutuhkan penjelasan lebih lanjut.

2- Ishaq ibn Ammar Al Sirafy berkata: Aku mendengar Abu Abdullah (as) berkata:
“Perkara ini ada waktunya yaitu terjadi di tahun 140, tetapi kamu mengumumkan dan mempublikasikannya sehingga Allah Yang Maha Kuasa menundanya.”
Sumber: Al Ghaybah oleh Al No’mani, hlm. 303


3- Ishaq ibn Ammar berkata: Abu Abdillah (as) berkata kepadaku:
“Wahai Aba Ishaq, perkara ini telah ditunda dua kali.”
Sumber: Al Ghaybah oleh Al Noa’mani, hlm. 303

4- Abu Baseer berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah (as): “Tidak adakah waktu yang pasti untuk perkara ini sehingga kami dapat merasa lega?!” Dan ia (as) menjawab:
“Ya, ada. Tetapi kamu mempublikasikannya maka allah menundanya.”
Sumber: Al-Ghaybah oleh Al-No’mani, hlm. 298.

Di sini sudah jelas bahwa Allah telah mentakdirkan waktu yang pasti untuk perkara ini (terjadi), tetapi karena beberapa pendukung dan juga dikarenakan pengkhianatan dan pembiaran pada hal-hal jahat yang telah dilakukan oleh orang-orang kepada Imam (as) maka Allah menundanya pada waktu Yang Diketahui yang hanya Allah (SWT) mengetahuinya.

5 - Thorayh al-Moharbi berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah (as) tentang para Imam setelah Nabi (sawas) dan ia (as) menjawab:
“Ya, sesungguhnya setelah Rasulullah (sawas) terdapat tujuh Penerus dari kami, mereka adalah para Imam yang wajib dipatuhi. Yang ketujuh adalah Al Qaim inshAllah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mulia dan Bijaksana, Dia mempercepat atau menunda (suatu perkara) sesuai kehendakNya. Dan Dia adalah Yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana. Dan Setelah Al Qaim akan ada 11 Mahdi dari putera-putera Al Hussein.”
Aku berkata: Siapakah yang ketujuh, semoga Allah menjadikanku tebusan bagimu? Perintahmu berada ke atas kepala dan mataku (artinya aku pasti akan mematuhi perintahmu)
Ia (as) berkata: Aku telah katakan tiga kali.
Dan ia (as) berkata: “Maka setelahku adalah Imam dan Qaim-mu inshAllah (jika Allah berkehendak).”
Sumber: Al-Usul al-Sitat’Ashr, hlm. 91

6 - Yunis ibn AbdulRahman berkata: Aku bertanya kepada Aba Abdillah (as) tentang firman Allah [Dan sesungguhnya, Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat, yang dibaca berulang-ulang dan Al-Qur'an yang agung.] {QS 15:87}. Maka ia (as) berkata:
“Yang terlihat jelas (luarnya) adalah (Surat) al-Hamd (al-Fatiha). Dan dalamnya adalah tentang seorang anak laki-laki dari seorang anak laki-laki. Dan yang ketujuh darinya darinya Al Qaim (as).”
Sumber: Bihar al Anwar vol. 24, hlm.117


7- Al-Fudhayl ibn Yasar berkata: Aku mendengar Abu Abdillah Al Sadiq (as) sedang mengatakan: “Tidak terdapat seorang ayah antara aku dan Al Qaim.”
Sumber: Al-Ghayba oleh al-Toosi, hlm. 43

8- Yazeed Al Sa’gh berkata: Ketika Abul Hassan Musa (as) dilahirkan dari Abi Abdillah Al-Sadiq (as), aku membuatkan baginya (as) perhiasan dari perak dan aku memberikan kepadanya sebagai hadiah. Ketika aku membawanya kepada Aba Abdillah (as), ia berkata:
“Wahai Yazeed, demi Allah engkau telah membawakan hadiah ini bagi Al Qaim dari Keluarga Muhammad (as).”
Sumber: Al-Ghaybah oleh al-Toosi, hlm. 44


9- Abu Sa’eed alMada’ini menceritakan: Aku mendengar Abu Ja’far (as) yang berkata:
“Sesungguhnya Allah menyelamatkan Bani Israil dari Firaun oleh Musa, putera Imran. Dan sesungguhnya, Allah akan menyelamatkan bangsa ini dari Firaun oleh seorang laki-laki yang mempunyai nama yang sama dengan Musa, putera Imran.”
Sumber: Al-Ghaybah oleh al-Toosi, hlm. 45

10- Muhammad ibn Marwan berkata bahwa pada suatu hari seorang laki-laki bertanya kepada Abi Ja’far (as): Semoga aku menjadi tebusan bagimu, mereka berkata bahwa Amirul Mukminin (as) berkata di Mimbar Kufa: “Bahkan jika umur bumi hanya tinggal satu hari lagi, Allah akan memanjangkan hari itu sehingga Dia dapat mengirimkan seorang laki-laki dariku yang akan mengisi dunia dengan Keadilan dan Kesetaraan yang sebelumnya telah diisi dengan ketidakadilan dan penindasan.”
Abu Ja’far (as) berkata: Ya.
Laki-laki itu bertanya: Apakah laki-laki (yang dikirimkan ke dunia) itu adalah engkau, ya Imam?
Imam (as) menjawab: “Bukan, laki-laki itu adalah seseorang yang namanya sama dengan yang membelah laut.”
Sumber: Al-Ghaybah oleh al Toosi, hlm. 46

11- Abu Khalid Al Kabli berkata: Aku mendengar Ali, putera Al Hussein (as), berkata:
“Qaroun dulu biasa memakai baju yang warnanya merah dan Firaun memakai baju hitam dan menggeraikan rambutnya. Allah mengirimkan Musa, putera Imran (as), untuk melawan mereka. Dan tentu saja anak-anak dari si fulan dan fulan memakai pakaian berwarna hitam dan menggeraikan rambutnya dan tentu saja Allah akan menghancurkan mereka oleh seseorang yang namanya serupa dengan Musa, putera Imran.”
Sumber: Al Ghaybah oleh al Toosi, hlm. 47

12.- Muhammad putera Al Hasan menceritakan dari ayahnya Al Hasan ibn Haroun bahwa Abu Abdillah (as) berkata:
“Anak laki-lakiku ini – dan ia menunjuk kepada Abal Hassan Musa (as) – adalah Al Qaim, dan ia adalah (perkara) yang tak terelakkan, dan ia adalah yang akan mengisi Bumi dengan keadilan dan kesetaraan yang sebelumnya telah terisi dengan ketidakadilan dan penindasan.”
Sumber: al-Ghaybah oleh al Toosi, hlm. 47-48


13- Abdullah ibn Sinan berkata: Aku mendengar Abu Abdullah (as) mengatakan:
“Dari perkara-perkara yang tak terelakkan adalah bahwa anak laki-lakiku ini adalah Al Qaim bagi bangsa ini, dan ia adalah sahabat sang pedang,” dan tangannya menunjuk kepada Abi Al Hasan Musa (as).
Sumber: Al Ghaybah oleh Al Toosi, hlm. 48

14- Abi al Waleed al Tara’efi berkata: Pada suatu malam aku berada di kediaman Abu Abdillah (as). Ia memanggil pelayannya dan berkata: “Panggilkan untukku pemimpin anak-anakku.”
Pelayan itu bertanya: Siapakah ia, tuanku?
Imam (as) menjawab: “Abul Hasan (as).”
Setelah ia datang dengan memakai kemeja tanpa jubah … sampai ia berkata … kemudian ia (as) meletakan tangannya pada pundakku dan berkata:
“Wahai Aba al-Waleed, seakan-akan aku tengah melihat Panji Hitam, sahabat yang memberikan kesejukan, berkibar di atas kepala ia yang sedang duduk sekarang dan ia akan bersama para sahabatnya , mereka akan menghancurkan pegunungan besi dengan kuat. Mereka tidak akan melewati apapun kecuali dengan menghancurkannya.”
Aku bertanya: Semoga aku menjadi tebusan bagimu, apakah ia yang anda maksudkan yang disana itu?
Imam (as) menjawab: “Ya.”
Kemudian ia (as) berkata: “Maka ikutilah ia, taati dan percayalah kepadanya dan berikan ia kegembiraan dari dirimu sendiri karena kamu akan menyadari (siapa Ia sesungguhnya) inshAllah.”
Sumber: Al-Ghaybah oleh al Toosi, hlm. 48


15- Abdullah ibn Ghalib berkata: Aku membacakan puisi ini kepada Abu Abdillah (as) : (Engkau adalah yang ditunggu… للذي نرى فتلك التي من ذي العلى فيك نطلب)
Ia (as) berkata: “Aku bukanlah orang yang digambarkan di dalam puisi itu, melainkan yang itu,” dan tangannya menunjuk kepada Abi Al Hasan (as).
Sumber: Al Ghaybah oleh al Toosi, hlm. 49

16- Sarim ibn Ilwan al Goukhi berkata: Aku, Mufaddal, Yunis ibn Thobyan, Al Faydh ibn Al Mukhtar, dan Al Qasim memasuki kediaman Abu Abdillah (as) dan ia sedang bersama dengan puteranya Isma’il (sampai ia berkata) maka Al Faydh berkata: Kami pikir Isma’il adalah pemilik perkara ini (Al Qaim) setelah anda.” Dan Abu Abdillah (as) berkata:
“Demi Allah, bukan dia.”
Kemudian ia (as) berkata:
“Ia adalah seseorang yang patut akan perkara ini,” dan ia menunjuk kepada Abul Hassan Musa (as) ketika ia sedang tidur, maka Imam Al Sadiq (as) mengangkatnya, memeluknya erat sehingga ia tertidur di dadanya. Dan ketika ia terbangun, Abu Abdullah (as) memegang tangannya dan berkata: “Demi Allah, ia ini sesungguhnya adalah puteraku, demi Allah ia akan mengisi dunia dengan keadilan dan kesetaraan setelah sebelumnya terisi dengan ketidakadilan dan penindasan.”
Al Qasim bertanya sekali lagi kepadanya: Semoga aku menjadi tebusan bagimu, ia yang anda maksud?’
Ia (as) berkata: “Ya, demi Allah. Puteraku ini tidak akan meninggalkan dunia ini sampai ia mengisi planet bumi dengan keadilan dan kesetaraan setelah sebelumnya terisi dengan ketidakadilan dan tirani. Aku bersumpah tiga kali untuk itu.”
Sumber: al Ghaybah oleh al Toosi, hlm. 49-50


17- Isma’il ibn Mansour al Zubali berkata: Aku mendengar dari seorang laki-laki dari Azrat yang selama 120 tahun telah menyampaikan kepadanya, berkata: Aku mendengar Imam Ali (as) dari Mimbar Kufa mengatakan; “Aku seakan-akan dapat melihat putera Hamida (Hamida adalah ibu dari Imam Musa as.) dan ia telah mengisi bumi dengan keadilan dan kesetaraan setelah sebelumnya terisi oleh ketidakadilan dan penindasan.”
Dan seorang laki-laki berdiri dan bertanya kepadanya: Apakah ia dari keturunanmu atau dari yang lainnya?
Imam (as) menjawab: “Tidak, tepatnya ia adalah laki-laki yang berasal dariku.”
Sumber: Ghaybat al-Toosi, hlm. 51

18- Abdullah ibn Sinan berkata: Aku mendengar Abu Abdillah (as) mengatakan, ketika Bidaa’ disebutkan:
“Apa yang Allah telah keluarkan kepada para malaikat dan para malaikat telah berikan kepada para Rasul dan para Rasul telah berikan kepada Bani Adam, Bidaa’ tidak akan terjadi. Dan tentu saja tidak terelakkan bahwa puteraku adalah Al Qaim.”
Sumber: Al Ghaybah oleh al Toosi, hlm. 52-53


19 - Al Astakhri berkata: Aku mendengar Abu Abdillah (as) mengatakan: “Aku seakan-akan melihat putera Hamida (Hamida adalah ibu dari Imam Musa Al Kazim as.), على أعوادها, dan Timur dan Baratnya bumi menjadi dekat letaknya kepadanya.”
Sumber: al Ghaybah oleh al Toosi, hlm. 53

20 - Abdullah Al Rigani berkata: Aku sedang berada di kediaman Abu Abdillah (as). Dan hamba yang shaleh, Musa (as) mendekat kepadanya maka Imam Al Sadiq (as) berkata kepadanya, “Ya Ahmed, kerjakan ini dan itu.’
Aku berkata kepada Imam Al Sadiq (as): Namanya bukan Ahmed.
Imam (as) berkata: “Tepatnya, namanya adalah Ahmed dan Muhammad.”
Kemudian ia (as) berkata kepadaku: “Wahai Abdullah, ashab dari perkara ini akan diambil lalu ia akan dipenjarakan dan masa ia terpenjara akan lama, maka apabila mereka mendekatinya, ia akan berdoa dengan nama Allah Yang Maha Besar dan Allah akan menyelamatkannya dari tangan-tangan mereka.”
Sumber: al Ghaybah oleh al Toosi, hlm. 57

Dan “Hamba Yang Shaleh” adalah salah satu dari gelar yang disandang oleh Imam Musa al Kazim (as) dikarenakan ibadahnya dan ibadah malamnya yang luar biasa.


21- Abi Abdillah Al No’man berkata bahwa Abu Ja’far (a.s.) mengatakan:
“Ashab dari perkara ini (Al Qaim) akan dipenjarakan pada suatu waktu dan ia akan wafat pada suatu waktu dan akan dapat meloloskan diri pada suatu waktu.”
Sumber: Al-Ghaybah oleh al Toosi, hlm. 58

Riwayat-riwayat di atas menegaskan kebenaran dari bukti-bukti yang dibawa oleh Panji-panji Hitam dari Timur yang terberkati yaitu bahwa Imam Musa Al Kazim (as) adalah Al Qaim dari Keluarga Muhammad (as).

Segala puji hanya bagi Allah.
Dan semoga Allah mencurahkan salam dan shalawat ke atas Muhammad dan Keluarga Muhammad, para Imam, dan Mahdyeen.


[Beberapa riwayat yang lain]:

22- Ali putera Al Hasan menceritakan bahwa Safwan Al Jammal berkata: Aku bertanya kepada Abu Abdillah (as) tentang ashab dari perkara ini (as), dan ia (as) berkata:
“Sesungguhnya ashab dari perkara ini adalah ia yang tidak bergurau atau bermain.”
Kemudian Abul Hassan Musa (as) datang mendekat, ia masih muda dan bersamanya ada seekor hewan dan ia berkata kepada hewan itu: “Bersujudlah kepada Tuanmu.” Lalu Abu Abdillah (as) menggandeng Abul Hassan Musa (as) agar mendekat kepadanya, memeluknya dan berkata kepadanya: “Semoga ayah dan ibuku menjadi tebusan bagimu, wahai engkau yang tidak senang bergurau ataupun bermain.”
Sumber: Al-Kafi oleh al Kulayni, vol. 1 hlm. 311, dan Al-Irshad, 2/216

23- Imam Musa Al Kazim (as) berkata di dalam hadith yang panjang:
“… Celakalah kamu, wahai Ali putera Salih! Sesungguhnya, Allah tidak meninggalkan tanahNya kosong dari (adanya) Al Hujjah, tidak bahkan dalam sekejap mata pun, apakah itu Hujjah (yang berbentuk) Batin (tersembunyi) atau Hujjah yang terlihat (fisiknya). Aku adalah Hujjah yang kelihatan fisiknya dan aku adalah Hujjah Batin. AKU ADALAH HUJJAH ALLAH DI HARI YANG TELAH DIKETAHUI, dan aku adalah penggenap untuk yang sudah dinyatakan/terucapkan atas nama Rasulullah. Selama saat ini sekarang aku adalah Musa, putera Ja’far ….”
Sumber-sumber: Bihar alAnwar oleh alMajlisi – vol. 48, hlm.41
Manaqib Ale-Talib oleh Ibn Shahr Ashob – vol. 3, hlm.419


Semua Syiah mempercayai dari banyak riwayat Ahlul Bayt (as) bahwa Hujjah Allah pada “Hari yang telah Diketahui” (yang disebutkan di dalam Al Quran adalah hari sampai Iblis (la) diberi penangguhan sampai hari manusia dibangkitkan) adalah Al Qaim dari Keluarga Muhammad (as) dan para ansar secara spesifik percaya bahwa ia adalah Imam Ahmed Al Hassan (as).

Maka riwayat di atas adalah penegasan yang lain bahwa Imam Ahmed Al Hassan (as) adalah Imam Musa Al Kazim (as)
Juga di dalam hadist, setelah menyebutkan ‘Hari yang Telah Diketahui’ (yang diketahui sebagai waktunya Al Qaim as. bangkit) Imam Musa (as) berkata: “Dan aku adalah penggenap untuk yang sudah dinyatakan atas nama Rasul.” Dan juga pada masa dan era ini, Imam Ahmed Al Hassan (as) adalah penggenap bagi semua yang sudah dikatakan (dinyatakan) atas nama Rasul Allah Muhammad (Imam Mahdi) sawas.

Oleh : pure brother Ahmed Ahmed
T- La Table Servie.

Salam, Sur une Table. T-16. Cela s’est pass[…]

Salam, Des bannières pour tous les peuples. […]

Q- Le Mahdi dans le Coran.

Salam, Le Qoraychi. Q-27. Nous avons vu que[…]