#65787
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, segala puji hanya bagi Allah penguasa segala alam.
Ya Allah, sampaikanlah salam dan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, para Imam dan Mahdyeen

Keberhasilan datangnya dari Allah (SWT) dan Allah (SWT) Yang Maha Mengetahui



Nabi Buddha (as)


Nabi Buddha (as) selalu terlihat sebagai orang yang lembut, penyayang, penuh kedamaian dan tentu saja memang aslinya Buddha (as) adalah seperti itu. Nabi Buddha (as) adalah seorang laki-laki yang bijaksana dengan pengetahuan yang tinggi sehingga mereka yang pernah bertemu dengannya (as) hidupnya berubah. Tidaklah mungkin untuk secara komplet menggambarkan semua kualitas yang dimiliki oleh Nabi Buddha (as), ia (as) adalah orang yang pengasih, sangat bijaksana, murah hati, tenang dan terbebas dari pikiran-pikiran yang salah dan merusak. Ia (as) memenangkan hati orang-orang karena ia selalu berbuat dengan segala perasaannya yang benar. Ia menasehati mereka agar supaya tidak menerima kata-katanya dengan keimanan yang buta, tetapi ia meminta mereka untuk memutuskan bagi diri mereka sendiri apakah ajaran-ajarannya benar atau salah, baru kemudian mengikutinya. Dari situ ia (as) mendorong setiap orang untuk mengasihi sesamanya dan membangun kebaikan mereka sendiri. Nabi Buddha (as) akan selalu mengatakan, “Kamu seharusnya mengerjakan pekerjaanmu sendiri karena aku hanya dapat mengajarkan caranya saja.” Sama seperti Imam Ahmed Al Hassan (as) dan Aba Sadiq (as) yang hanya dapat menunjukkan kepada kita pintu untuk memberikan kemenangan bagi Keluarga Muhammad (SAW) akan tetapi kitalah yang harus berjalan melewati pintu itu. Sebagaimana apa yang semua Nabi (as) ajarkan, Nabi Buddha (as) juga mengajarkan moral dan perilaku yang sama, dan jalan menuju Allah SWT dan cara bagaimana agar berhasil di dalam jalan itu dengan mengatasi emosi, penderitaan dan mengalahkan pikiran. Nabi Buddha (as) tidak pernah marah atau tidak sabar atau berbicara kasar kepada siapapun, bahkan tidak kepada mereka yang menentangnya. Dia selalu mengajar dengan cara tertentu sehingga dapat dimengerti oleh setiap orang. Setiap orang merasa bahwa Buddha (as) sedang khusus berbicara kepadanya. Nabi Buddha (as) berkata kepada para pengikutnya untuk saling tolong-menolong sebagaimana Aba Sadiq (as) telah mengatakan kepada kita semua untuk saling melayani seperti kita melayani Aba Sadiq (as) atau Imam Ahmed Al Hassan (as) yaitu dengan cinta, kasih sayang dan ketulusan.


Kata-kata Hikmah dari Nabi Buddha (as)

Buddha berarti ‘Yang Terbangunkan’, seseorang yang telah terbangun dari tidurnya kebodohan. Tujuan dari Nabi Buddha (as) adalah kebebasan, kebebasan dari belenggu hasrat, kebebasan dari penderitaan yang kita timbulkan terhadap diri kita sendiri, kebebasan dari kebodohan dan kebebasan tertinggi untuk mencapai pencerahan.

Siapapun yang membaca sedikit ucapan-ucapan Nabi Buddha (as) akan segera menyadari harmoni di dalamnya dan ketenangan jiwa dan kesabaran yang tak ada habisnya. Ucapan-ucapannya penuh dengan nasehat, aturan dan petunjuk.

No. 1: Diri kita seutuhnya adalah hasil dari apa yang kita pikirkan. Pikiran adalah segalanya. Kita adalah apa yang kita pikirkan.
No. 2: Tidak ada sesuatu yang begitu tidak taat sebagaimana pikiran yang tidak disiplin (tidak terkontrol) dan tidak ada yang begitu taat sebagaimana pikiran yang disiplin (terkontrol).
No.3: Seseorang yang tekun bermeditasi. Bebas dari noda. Tenang. Telah mengerjakan apa yang harus dikerjakan dengan sempurna. Bagaikan bulan yang terbebas dari awan maka ia akan menerangi dunia ini.
No.4: Ribuan lilin dapat dinyalakan dari satu lilin dan nyalanya tidak akan berkurang, begitupun kebahagiaan tidak akan berkurang walau dibagi-bagi.
No 5: Ada dua kesalahan yang seseorang dapat perbuat di sepanjang jalan menuju kebenaran –tidak melakukannya sama sekali atau tidak pernah memulainya.
No 6: Pada perjalanan panjang dari hidup manusia, keimanan adalah sahabat terbaik; ia adalah penyegar terbaik di sepanjang perjalanan; dan ia adalah harta terbesar.
No 7: Rahasia kesehatan untuk tubuh dan pikiran adalah tidak menangisi masa lalu, tidak mengkhawatirkan masa depan, atau tidak mengantisipasi kesukaran, melainkan hidup di masa sekarang dengan bijaksana dan bersungguh-sungguh.
No 8: Berpegang pada kemarahan adalah seperti menggenggam bara yang panas dengan niat untuk melemparkannya kepada orang lain; kamu sendiri yang akan terbakar.
No 9: Lebih baik daripada seribu kata-kata kosong adalah satu kata yang membawa kedamaian.
No 10: Untuk menikmati kesehatan yang baik, untuk membawa kebahagiaan sejati kepada keluarganya, untuk membawa kedamaian kepada semua, pertama-tama seseorang harus berdisiplin dan mengendalikan pikirannya. Jika manusia dapat mengendalikan pikirannya, ia akan menemukan jalan menuju Pencerahan, dan semua hikmah dan kebaikan secara alami akan datang kepadanya.


Kisah-kisah Hikmah dari Nabi Buddha (as)

Kisah #1 – Kasih Sayang

Pada suatu hari Buddha (as) sedang berada di suatu majelis ketika seorang laki-laki berjalan dengan muka marah. Ia berpikir bahwa Buddha (as) sedang melakukan sesuatu yang salah. Ia adalah seorang pengusaha yang selalu gelisah dan ia mendapati bahwa anak-anaknya sedang menghabiskan waktu mereka selama berjam-jam bersama Sang Buddha (as) padahal mereka sebetulnya dapat menyibukkan diri mereka dengan bisnis pada saat itu, sehingga dapat menghasilkan lebih dan lebih banyak uang. Ia merasa bahwa menghabiskan empat jam dari hari-hari mereka dengan duduk di sebelah seseorang yang matanya selalu terpejam adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Dan inilah yang membuat kesal si pengusaha. Dengan rasa marah ia berjalan menuju Sang Buddha (as), melihat matanya, dan meludahinya. Ia merasa sangat marah, ia tidak dapat menemukan katakata untuk mengungkapkan kemarahannya sehingga ia hanya dapat meludahi Buddha (as). Buddha (as) hanya tersenyum. Ia tidak menunjukkan kemarahan walaupun para muridnya di sekelilingnya merasa marah. Mereka ingin bereaksi keras tetapi tidak bisa karena Buddha (as) sedang berada di situ. Setiap orang yang hadir mengertakan giginya dan mengepalkan tangannya. Setelah si pengusaha meludahi Buddha (as) dan menyadari bahwa tindakannya tidak mendapatkan reaksi, ia pergi dengan marah. Buddha (as) tidak memberikan reaksi atau berkata apapun. Ia hanya tersenyum. Dan itu sudah cukup untuk membuat kaget si pengusaha yang sedang marah. Pertama kali dalam hidupnya, laki-laki itu bertemu dengan seseorang yang hanya tersenyum ketika ia meludahi wajahnya. Laki-laki itu tidak dapat tidur semalaman dan seluruh tubuhnya mengalami semacam transformasi. Ia menggigil, gemetaran. Ia merasa seakan-akan seluruh dunia menjadi jungkir-balik. Hari berikutnya ia mendatangi Sang Buddha (as) dan jatuh di kakinya dan berkata, “Tolong ampuni aku. Aku tidak tahu apa yang aku lakukan.” Buddha (as) menjawab, “Aku tidak dapat memberi maaf kepadamu.” Setiap orang termasuk laki-laki itu dan murid-murid Sang Buddha (as) merasa kaget. Buddha (as) kemudian menjelaskan alasan di balik pernyataannya. Ia (as) berkata, “Mengapa aku harus mengampunimu sementara kamu tidak berbuat kesalahan sedikit pun.” Si pengusaha bertambah kaget dan mengatakan kepada Sang Buddha (as) bahwa dialah yang telah berbuat salah karena telah meludahinya. Buddha (as) berkata, “Oh! Laki-laki yang marah tadi sudah tidak ada lagi di sini sekarang. Jika aku bertemu dengan orang yang kamu ludahi, aku akan mengatakan kepadanya untuk memaafkanmu. Dan orang yang ada di sini sekarang, ia tidak berbuat salah apapun.”
Dari cerita ini kita diajarkan tentang kasih sayang yang sejati. Kasih sayang bukan hanya terletak pada ucapan, “Aku memaafkanmu.” Tindakan memaafkan orang lain seharusnya membuat orang yang diberikan maaf bahkan tidak mengetahui bahwa kamu sedang memaafkannya. Mereka bahkan tidak seharusnya merasa bersalah atas kesalahan mereka.



Kisah #2 – Ketenangan Batin


Nabi Buddha (as) sedang duduk di bawah pohon beringin. Pada suatu hari, seorang brahmana yang sedang marah datang kepadanya dan mulai memaki-makinya.
Brahmana itu berpikir bahwa Buddha (as) akan membalas dengan cara yang sama, tetapi dengan rasa terkejut yang luar biasa, tidak ada perubahan sekecil apapun pada ekspresi wajah Sang Buddha (as). Sekarang si brahmana menjadi lebih marah lagi. Ia melontarkan lebih banyak cacian. Walaupun demikian, Buddha (as) sungguh-sungguh tidak bereaksi. Malah ada pandangan kasih sayang pada wajahnya. Akhirnya si brahmana merasa lelah mencaci maki Sang Buddha (as). Ia bertanya, “Aku telah mencaci makimu dengan sangat kasar, tetapi mengapa anda tidak marah sama sekali?” Buddha (as) dengan tenang menjawab, “Saudaraku terkasih, aku tidak pernah mendapatkan caci makimu walaupun hanya satu katapun.”
“Tetapi anda mendengar semua yang aku katakan, bukan?” Si brahmana mendebat setengah hati. Buddha (as) berkata, “Aku tidak membutuhkan caci maki, jadi mengapa aku harus mendengarnya?” Sekarang si brahmana semakin merasa bingung. Ia tidak dapat mengerti jawaban yang tenang dari Sang Buddha (as). Setelah melihat wajahnya yang gelisah, Buddha (as) lebih jauh menjelaskan, “Semua kata-kata kasarmu tertinggal pada dirimu.” “Tidak mungkin,” brahmana itu bersikeras. “Aku telah melontarkannya semua kepadamu.” Buddha (as) dengan tenang mengulangi jawabannya, “Tetapi aku tidak mendapatkan bahkan satu caci makimu! Saudaraku terkasih, misalkan kamu memberikan beberapa uang logam kepada seseorang dan apabila ia tidak menerimanya, lalu ada pada siapa uang-uang itu?” Brahmana menjawab, “Jika aku telah memberikan uang logam kepada seseorang dan ternyata tidak diperlukan oleh orang itu maka tentu saja uang-uang itu akan tetap ada bersamaku.” Dengan senyum penuh arti, Buddha (as) berkata, “Sekarang kamu benar. Hal yang sama terjadi pada segala caci makimu. Kamu datang kesini dan melontarkan kata-kata kasar kepadaku, tetapi aku tidak menerima sepatah cacian pun darimu. Oleh karenanya, semua kata-kata kasar itu tetap ada bersamamu. Jadi tidak ada alasan untuk marah kepadamu.” Brahmana lalu terdiam. Ia sangat malu akan tingkah lakunya dan memohon pengampunan dari Sang Buddha (as).

Dari cerita ini kita mengetahui apakah kedamaian batin itu, Nabi Buddha (as) merasa cukup dengan yang ada di hidupnya dikarenakan ketenangan dan kedamaian batin ini. Berlatih untuk bersabar dan bersikap tenang dengan mempelajari bagaimana menaklukkan kemarahanmu adalah kekuatan terbesar dari orang-orang yang bijaksana.

Salam, Mahdi l‘illettré ou ignorant. R-21. L[…]

T- La Table Servie.

Salam, La symbolique. T-14. Certains Musulma[…]

A- Nom nouveau du Mahdi.

Salam, La passation de pouvoir se fait d’homme[…]