User avatar
By zeynabansari
#65790
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, segala puji hanya bagi Allah Penguasa Alam Semesta.
Ya Allah, sampaikanlah salam dan shalawat kepada Muhammad dan Keluarga Muhammad, para Imam dan Mahdyeen.

Asalaam alaykum wa Rahmat Allah wa Barakatuh

“Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja).” {QS 5:48}

Sejak Khalifah diturunkan ke bumi oleh Allah Yang Maha Kuasa, hukum-hukum (aturan-aturan) telah diturunkan agar umat manusia dapat hidup sebagai masyarakat yang berperan guna. Sejak masa Adam (as) sampai masanya Musa (as) sampai ke pada era Muhammad (sawas), hukum-hukum telah silih berganti. Mari kita menjelajah mundur di dalam perjalanan waktu dan melihat bagaimana semuanya terkuak.

Beberapa aturan telah dihilangkan sementara kepada yang lainnya ditambah. Apakah alasan di balik semua ini dan bagaimana reaksi manusia terhadap hal itu?

Ketika Nabi Nuh (as) berjalan di bumi, ia dikelilingi padang hijau dan hewan-hewan. Bangsanya makan apa yang mereka sukai sebagaimana Tuhan berkata, “Segala yang bergerak, yang hidup, akan menjadi makananmu. Seperti Aku memberikan tumbuhan-tumbuhan hijau kepadamu, sekarang Aku memberikan segalanya kepadamu. Namun, jangan kamu makan daging yang masih bernyawa, yaitu darahnya.” {Kejadian 9:3-4}
Sementara itu selama masa Nabi Yakub (as), dibuatlah beberapa batasan. Semua makanan dibolehkan untuk dimakan oleh Bani Israel kecuali yang Israel telah larang bagi dirinya. Dan mereka tidak diperbolehkan makan lemak dari sapi, domba, ataupun kambing. Lama sesudahnya barulah ada perubahan bagi Bani Israel ketika Yesus (as) datang. Dan juga bagi mereka yang mendengarkan kata-kata Yesus (as), “Tidak ada satu makanan pun yang pada dasarnya najis .” {Roma 14:14}

Namun, ketika Nabi Muhammad (sawas) datang dengan petunjuk, beberapa batasan yang lama dibawa kembali dan bahkan dibuat yang baru. Alkohol adalah salah satu yang dilarang setelah beberapa waktu. Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: 'Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.’ {QS 2:219} Salah satu alasannya dilarang adalah karena konsumsi yang berlebihan yang dilakukan bangsa Arab yang akan mengarah kepada dosa yang lebih besar.


Jadi kita melihat bagaimana hukum-hukum yang ada di dalam kasus-kasus di atas berubah yang tujuannya untuk meminimalkan kekerasan dan kehancuran. Karena alkohol tidak dilarang di bawah undang-undang Musa, dan alkohol bahkan disebutkan sebagai bermanfaat. Jangan hanya minum air saja, tetapi gunakan sedikit anggur demi perutmu dan tubuhmu yang sering sakit. {1 Timotius 5:23} Alkohol juga diizinkan ketika masa Isa (as) sebagaimana ia mengubah bergalon-galon air menjadi anggur untuk tamu-tamunya.

Terdapat banyak perubahan hukum bukan saja mengenai makanan tetapi juga mengenai kehidupan sosial.

Adam dan Hawa adalah manusia-manusia pertama yang menghuni planet Bumi. Mereka mempunyai anak dan membiarkan anak-anak mereka menikahi satu sama lain untuk memenuhi planet Bumi, incest adalah satu-satunya cara untuk itu. Di dalam hadist yang panjang, kita membaca bahwa incest adalah hal yang lumrah terjadi pada masa itu. Bahkan Abi Hathem menceritakan: Seorang laki-laki yang buruk berkata kepada saudaranya, “Berikan kepadaku saudara kembarmu yang perempuan untuk kunikahi dan aku akan memberikan saudara kembar perempuanku untuk kau nikahi.” Ia berkata, “Aku lebih berhak untuk menikahi saudara kembar perempuanku.” Lalu mereka memberikan persembahan dan persembahan yang berupa domba jantan diterima sementara persembahan yang berupa hasil panen tidak diterima sehingga ia membunuhnya. Al Quran dan Injil keduanya memberitahukan kepada kita bahwa mereka yang memberi persembahan adalah anak-anak lelaki Adam yaitu Qabil dan Habil (Cain and Abel). Persembahan Habil diterima sementara kepunyaan Qabil tidak sehingga Qabil membunuh saudaranya. Kita melihat bahwa Allah Yang Maha Kuasa membuat pernikahan antar anggota keluarga, saudara laki-laki kandung kepada saudara perempuan kandung, diperbolehkan bagi orang-orang di masa Nabi Adam (as). Sesuatu yang pada hari ini sukar diterima karena hal itu dilarang oleh agama-agama besar. Kita membaca di dalam Al Quran: “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan…” {QS 4:23}

Tetapi apakah selalu seperti itu?

Contoh lain yang mungkin kelihatannya aneh dan agak sedikit susah dibayangkan adalah bahwa Nabi Sulaiman (as) mempunyai 700 istri dan 300 selir. Contoh berikutnya yang tidak terlalu sulit dibayangkan tetapi tetap tidak lazim hari ini adalah bahwa Nabi Daud (as) mempunyai 18 istri dan itu karena ia mengikuti aturan Musa (as). Dikatakan, “Jika ia memperistri perempuan lain, maka ia tidak boleh mengurangi makanan bagi perempuan itu (yang sebelumnya).” {Keluaran 21:10} Tetapi Nabi Isa (as) melarang untuk menikahi lebih dari satu istri seperti yang kita baca, “Setiap laki-laki sebaiknya mempunyai istrinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri.” {1Korintus 7:2} Dan kita juga mengetahui bahwa Nabi Muhammad (sawas) mengizinkan untuk menikahi empat istri tetapi tidak boleh lebih dari itu

Ketika menyangkut pernikahan, ada banyak sekali aturan-aturan mengenainya, bukan hanya mengenai jumlah istri yang dibolehkan untuk dipunyai tetapi juga siapa yang halal untuk menikahi siapa. Nabi Yakub (as) menikahi wanita-wanita yang masih bersaudara kandung. Banyak orang yang membaca ini dan menggaruk-garuk kepalanya sambil berpikir dua kali karena selanjutnya ketika Taurat diturunkan, menikahi perempuan-perempuan yang masih bersaudara kandung dilarang, seperti yang kita baca, “Selama istrimu masih hidup, jangan mengambil saudara perempuannya sebagai istri yang lain. Jangan mengadakan hubungan seksual dengan saudari istrimu.” {Imamat 18:18}


Maka mereka bertanya bagaimana mungkin ia (as) melakukan sesuatu yang ia tahu bahwa tindakan itu akan dilarang di kemudian hari? Dan mereka mulai memberikan banyak teori untuk membenarkan tindakan-tindakannya

Tetapi jawabannya sebetulnya sangat lugas, hal itu dikarenakan hukum-hukum Tuhan tidaklah konstan (tetap). Hukum-hukum itu dapat berubah.

Setiap zaman membutuhkan hukum-hukum yang baru, aturan-aturan baru. Imam Ali (as) berkata, “Jangan besarkan anak-anakmu dengan cara yang dipakai oleh orang tuamu untuk membesarkan kamu, karena mereka dilahirkan di era yang berbeda.” Jadi bagaimana mungkin hukum-hukum Tuhan tidak dapat berubah dalam era yang berbeda-beda tetapi cara kita membesarkan anak-anak harus berubah karena berbeda zaman?

Tuntutan kebutuhan manusia berubah seiring waktu. Gaya hidup mereka pun berubah. Mereka hidup di bawah situasi-situasi yang berbeda daripada orang-orang yang hidup di masa sebelumnya. Mereka mungkin akan memakai sesuatu secara berlebih-lebihan atau menyalahgunakan yang lain. Jadi, bukankah mereka membutuhkan hukum-hukum yang baru?

Di dalam Injil, Isa menerangkan tentang satu dari banyak alasan yang menyebabkan hukum-hukum Tuhan mengalami perubahan. Beberapa orang Farisi mendatangi Isa, mengujinya dan bertanya, “Apakah diperbolehkan bagi seorang laki-laki untuk menceraikan istrinya untuk alasan apapun?” Dan Isa (as) menjawab dan berkata, “Tidakkah kamu membaca bahwa Ia, yang menciptakan mereka sejak semula, menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?” {Matius 19:4} Dan Isa (as) melanjutkan, “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” {Matius 19:6} Mereka berkata kepada Isa, "Lalu, mengapa Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai dan menceraikan istri?" Isa berkata kepada mereka, "Karena kekerasan hatimu, Musa mengizinkan kamu menceraikan istrimu. Akan tetapi, pada awalnya tidaklah demikian. Dan, aku mengatakan kepadamu bahwa siapa yang menceraikan istrinya, kecuali karena zina, lalu menikah dengan perempuan lain, ia berzina.” {Matius 19:7-9} Hati yang keras adalah kondisi terburuk yang seseorang dapat derita dan juga berbahaya. Bani Israel juga mulai menindas para Nabi dan memperlihatkan ketidaktaatannya. Oleh karena itu makan daging dari hewan yang tidak bercakar diharamkan di bawah hukum Musa. Isa (as) sebaliknya menghapuskan aturan mengenai pelarangan itu namun ia juga tetap meneruskan sebagian besar aturan-aturan dari Nabi Musa (as).

Hukum-hukum lain yang berubah juga dikarenakan oleh tindakan-tindakan yang dilakukan para rahib dan rabbi. Mereka memanipulasi hukum-hukum bukan saja untuk menyesuaikan dengan pikiran-pikiran mereka yang terbatas tetapi juga untuk menyenangkan para elite yang kedudukannya lebih tinggi. Yang haram menjadi halal dan sebaliknya. Para rahib dan rabbi ini menunjuk diri mereka sendiri sebagai para pembuat hukum namun Allah Yang Maha Kuasa berfirman di dalam Al Quran, “Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.” {QS 5:48} Allah tidak mengatakan bahwa siapa pun dapat menjadi pembuat hukum/aturan, Dia Yang Maha Kuasa mengatakan bahwa Allah sendiri yang akan menciptakan aturan-aturan. Mereka yang berkomunikasi denganNya yang akan mengirimkan risalah/wahyu kepada umat manusia karena Allah telah menggambarkan tentang mereka di dalam Quran, “Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya (para nabiNya) itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (Allah kepadanya).” {QS 53:3-4}

Buddha (as) berkhotbah tentang hukum dan Lotus Sutra dan ia berkata, “Aku mengetahui bahwa mahluk hidup tidaklah sama satu sama lain di dalam sifat dan keinginan-keinginan mereka dan karena sifat dan keinginannya tidak sama maka aku berkhotbah dengan cara yang beragam dan berbeda. Namun di dalam waktu lebih dari 40 tahun ini, aku belum mengungkapkan kebenaran, oleh karenanya cara mereka memperoleh kebenaran tidaklah seragam tetapi berbeda di dalam kasus yang berbeda-beda.” Dan Nabi (sawas) juga mengatakan, “Hadapi orang-orang sesuai dengan kemampuan berpikir mereka.”
Itulah mengapa apabila kamu melihat pada hadist-hadist awal Buddha yang mencoba melestarikan ajaran-ajaran Sang Buddha (as), kamu akan menemukan doa yang harus dijelaskan dengan cara yang beragam daripada satu cara saja yang merupakan kebenaran utama.


Tujuan berdoa adalah untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, untuk menyucikan hati, dan memperkokoh hubungan kita dengan Tuhan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara yang beragam, di dalam bahasa dan posisi yang berbeda-beda. Pada setiap era Nabi-nabi Allah membawa cara berdoa yang berbeda. Ketika penganut Buddha mencoba untuk menemukan kesadaran (mindfulness) dengan beragam cara, Isa mengajarkan penganut Kristen untuk berbicara kepada Tuhannya dalam berbagai posisi yang mereka sukai, dengan menengadahkan tangan atau melipat tangan, duduk ataupun berlutut. Muhammad (sawas) sebaliknya datang dengan cara berdoa yang ritualistik, termasuk di dalamnya gerakan-gerakan dan bacaan-bacaan yang tetap.

Doa dan aturan-aturan bagaimana melakukannya digambarkan secara detil bahkan arah berdoa atau kiblat juga digambarkan, yang merupakan sesuatu yang berbeda di sepanjang waktu. Ketika para malaikat bersujud, Allah Yang Maha Kuasa telah membuatkan Adam (as) sebuah kiblat. Di dalam 1Raja-raja 8:44, Solomon menggambarkan kiblat di dalam doanya kepada Tuhan, “Jika umatMu pergi berperang melawan musuhnya ke arah yang Engkau suruh kepada mereka dan mereka berdoa kepada Tuhan ke arah kota yang Engkau pilih serta ke bait yang kubangun bagi namaMu.” Ketika Nabi Muhammad (sawas) berkhotbah tentang agama Tuhan, kiblat diubah ketika Allah Yang Maha Kuasa berfirman, “Maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat, yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram.” {QS 2:144}

Perubahan ini tidak hanya dibuat diantara zaman-zaman yang berbeda, diantara rasul-rasul yang berbeda. Namun ada juga perubahan yang dibuat oleh Rasul yang sama (sawas) di dalam zaman yang sama. Al Quran mengatakan, ”Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia, akan berkata: 'Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?” {QS 2:142}

Imam Ahmed Al Hassan (as) mengatakan di dalam bukunya “Si Anak Sapi” (The Calf) vol.1, “Maka wajiblah bagi setiap Muslim untuk mempercayai Malaikat dan Kitab Suci dan Nabi-nabi terdahulu dan penerus mereka dan aturan-aturan mereka dan juga untuk menghormati aturan-aturan mereka bahkan jika aturan-aturan itu dibatalkan di kemudian hari karena semua aturan itu awalnya adalah aturan-aturan Allah kepada manusia di muka bumi ini.”

Tidaklah mungkin untuk mempertahankan agar hukum tidak berubah pada zaman yang berbeda. Dunia berubah dan masyarakatnya juga berubah. Hari Akhir adalah sebuah zaman yang sama sekali berbeda dibandingkan dengan zaman-zaman yang lain. Seperti yang kita ketahui, kejadian-kejadian yang hebat dan buruk akan terjadi. Umat manusia telah mencapai tahap yang berbeda daripada umat sebelumnya. Maka tentu saja hukum haruslah berubah.

Imam Al Sadiq (as) berkata, “Islam akan bermula sebagai sesuatu yang ganjil/aneh dan akan kembali sebagaimana ia bermula maka berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang aneh.” Maka aku berkata: Tolong terangkan ini kepadaku, semoga Allah merahmati anda. Dan ia (as) berkata, “Seorang penyeru yang berasal dari kami melanjutkan seruan kembali sebagaimana Rasulullah (sawas) berseru.” Al Qaim (as) akan datang dengan sesuatu yang akan kelihatannya ganjil dan kelihatannya baru sama seperti yang terlihat ketika Nabi Muhammad (sawas) mendatangi orang-orang Arab dan sama seperti yang terlihat ketika setiap Nabi atau Rasul datang dengan seruan untuk berpaling kepada Tuhan.


Maka para Nabi (as) dan Rasul (as) dan Al Qaim (as) adalah agama itu sendiri karena mereka menetapkan hukum-hukum dan mereka berada di atas semua hukum-hukum itu. Mereka adalah yang mengetahui bagaimana membimbing manusia ke jalan yang lurus, karena apabila seseorang yang tidak maksum memutuskan untuk mengganti hukum maka ia diklaim mengetahui pengetahuan yang tersembunyi dan ia dinyatakan sebagai Tuhan dan orang-orang yang mengikutinya dan mengikuti hukum-hukumnya akan menyembahnya dan bukannya Allah Yang Maha Kuasa. Orang-orang itu, pada kasus ini, bertingkah laku seperti orang–orang Yahudi yang disebutkan di dalam Al Quran, “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka, sebagai rabb-rabb selain Allah.” {QS At-Taubah:31}
Dan Abu Ja’far (as) berkata, “Dan bagi para alim dan rahib-rahib mereka, mereka (umat manusia) telah mematuhinya dan mengikuti kata-katanya dan menuruti apa yang mereka perintahkan kepada mereka dan mereka menganggap apa yang mereka serukan sebagai agama karena mereka menjadikan mereka sebagai rabb-rabb dan mematuhinya dan meninggalkan yang Allah, KtabNya dan para RasulNya perintahkan kepada mereka.”


Sebagaimana para rahib Yahudi mengubah hukum-hukum Musa (as) dan sebagaimana manusia sebelum masa Nabi Muhammad (sawas) yang menyatakan bahwa menyembah patung-patung yang merupakan imej para Malaikat adalah kehendak Allah, umat manusia pada zaman sekarang juga melakukan hal yang sama. Umat manusia menerima bahwa berhala-berhala ini dapat mengubah hukum-hukum sesuka mereka tetapi tidak dapat menerima ketika pembuat hukum itu sendiri, Rasul yang diutus Allah, melakukannya.


Pada suatu hari Isa (as) dan murid-muridnya sedang berjalan di padang gandum pada hari Sabat dan karena kelaparan, para murid itu mulai makan biji-biji gandum dan orang-orang Farisi berkata, “Lihatlah, murid-muridmu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.” Pada saat itu orang-orang Farisi menggunakan hukum-hukum Musa (as) untuk melawan Isa padahal Isa adalah hukum itu sendiri. Orang-orang Farisi tidak pernah menyadari hal itu dan mencoba berkali-kali untuk memperdaya Isa (as) tetapi selalu tanpa hasil.


Para ahli hukum dan orang-orang Farisi membawa seorang perempuan yang tertangkap basah sedang berzina. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah dan berkata kepada Isa, “Guru, perempuan ini tertangkap basah ketika sedang berzina. Hukum Taurat Musa memerintahkan kita untuk melempari perempuan semacam ini dengan batu. Apa pendapatmu tentang hal ini?” Mereka menggunakan pertanyaan ini untuk menjebak agar mempunyai dasar untuk mendakwanya. Tetapi Isa (as) menjawab, “Orang yang tidak berdosa di antara kalian hendaklah dia menjadi yang pertama melempar perempuan ini dengan batu.” Tidak ada yang berani untuk melakukan apapun maka mereka semua lalu berbalik dan meninggalkan tempat itu.


Jadi bagaimana umat manusia akan memperlakukan dan memandang hukum-hukum Al Qaim dari Muhammad dan Ahlul Bayt(as)nya? Banyak orang akan bereaksi sama seperti mereka yang berasal dari zaman sebelumnya. Kita membaca, “Dan apabila dikatakan kepada mereka: 'Ikutilah, apa yang telah diturunkan Allah'. Mereka menjawab: '(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti, apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami'. (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun dan tidak mendapat petunjuk.” {QS 2:170}



Dan zaman ini akan menjadi zaman yang berat bagi manusia karena Al Qaim (as) akan menghisab manusia dengan banyak cara yang berbeda, menggunakan hukum-hukum yang berbeda yang manusia tidak akan pahami. Dan di dalam hadist terdapat: Abu Ja’far (as) berkata, “Al Qaim akan menghisab perkara-perkara yang akan disangkal oleh beberapa sahabatnya yang telah berperang di hadapannya dengan pedang dan ini adalah penghisaban Adam (as). Lalu ia (as) akan maju dan menyabet leher mereka dan ia akan menghisab untuk yang kedua kalinya dan yang lain dari mereka yang telah berperang di hadapannya dengan pedang akan menyangkalnya dan ini adalah penghisaban Daud (as). Lalu ia (as) akan maju keluar dan menyabet leher mereka dan ia akan menghisab untuk yang ketiga kalinya dan orang-orang yang lain dari mereka yang telah berperang di hadapannya dengan pedang akan menyangkalnya dan ini adalah penghisaban Ibrahim (as). Kemudian ia akan maju keluar dan menyabet leher mereka dan ia akan menghisab untuk yang keempat kalinya dan ini adalah penghisaban Muhammad (sawas) dan tidak satupun yang menyangkalnya lagi.”

Imam Ahmed Al Hassan (as) telah mengungkapkan mengenai penghisaban Daud (as), “Dan ini artinya bahwa Allah Yang Maha Tinggi, Yang Maha Agung memberitahukan Imam Mahdi (as) tentang sisi batiniah (inner) dari perkara-perkara ini, dan Ia Yang Maha Tinggi Yang Maha Agung mempersilakan ia (as) untuk menghisab dengan berdasarkan pada (sisi) batiniahnya. Jadi manusia hanya akan melihat sisi luar/fisiknya (apparent) saja yang akan membuatnya sukar untuk menerima penghisabannya jika mereka tidak memiliki hati pada tempat yang benar.”



Apa yang kita perhatikan di keseluruhan dokumenter ini adalah bahwa hukum-hukum berubah. Dari Nabi ke Nabi, Rasul ke Rasul, dan terus-menerus berulang lagi, umat manusia dan para ulama menggunakan kitab usang untuk melawan Nabi atau Rasul yang baru. Mereka berpegangan erat pada ajaran-ajaran lama walaupun sang pembuat hukum ada di tengah-tengah mereka, yaitu seseorang yang mempunyai pengetahuan sejati dari Tuhan di tangannya. Imam Ali (as) adalah ‘Quran berjalan’ dan masih saja manusia mengujinya mengenai (isi) Al Quran dan masih saja mereka berpikir mereka tahu lebih banyak darinya (as). Roh Kudus selalu bersama Isa (as) dan masih saja manusia menguji dan mempertanyakannya. Apabila kamu hendak mengikuti Allah Yang Maha Kuasa, kamu harus belajar untuk melepaskan apa yang kamu pegang, karena kalau tidak kamu sendiri yang akan menjadi sumber kegagalanmu dan akan menjadi seperti orang-orang Farisi semasa Isa hidup atau para rahib selama masa Musa atau ulama tak beramal di zaman sekarang.


Tetapi sebagaimana orang-orang munafik manapun yang pernah hidup di bumi, Isa (as) berkata, “Dan, ketika kamu berdoa, jangan seperti orang-orang munafik karena mereka suka berdiri dan berdoa di sinagoge-sinagoge dan di sudut-sudut jalan supaya dilihat orang lain.” Dan kepada orang-orang Farisi, ia berkata, “Hai orang-orang munafik! Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu: ‘Bangsa ini menghormati aku dengan mulut mereka, tetapi hati mereka jauh dari padaku. Dan sia-sia mereka menyembahku, sedangkan ajaran yang diajarkan mereka ialah peraturan manusia.’”



Aba Sadiq (as), Mahdi kedua, juga telah menekankan pada masalah ini. Ia berkata, “Kadang-kadang daripada mencari-cari doa tertentu, akan lebih baik untuk berbicara apa yang ada di dalam hatimu kepada Tuhan, karena apa yang ada di hati(mu) yang terpenting.” Karena apa gunanya kalimat-kalimat di dalam doa yang ritualistik yang kita pelajari jika kita tidak mengikutkan hati kita dan kita tidak meniatkannya.


Ada bacaan di dalam Lotus Sutra yang membicarakan tentang Bodhisattva, Maitreya, “Kami akan datang di masa depan dengan membawa sebuah hukum. Sebuah hukum yang pada masa lampau tidak pernah terdengar, kamu sekarang akan dapat mendengarkannya.” Seseorang yang membaca doa Nudbah pada hari Jumat selalu bertanya, “Dimanakah ia yang terpilih untuk memulihkan keimanan dan syariat (hukum)?” Dan ia yang berdoa Bapa Kami selalu berkata, “Datanglah KerajaanMu, jadilah kehendakMu, di bumi seperti di dalam surga.”


Dan kami, Kanal Satelit Black Banners of The East berkata, “Yang Terpilih (as) ada di sini dan ia akan membuat kalian semua mendengar hukum-hukum dari Kerajaan Surga. Akankah kalian mematuhi hukum-hukum ini? Karena apa yang kalian nantikan telah datang.”


Imam Ahmed Al Hassan (as) berkata, “Ini sebetulnya persamaan yang mudah. Apabila kamu percaya bahwa aku adalah sang pembuat hukum dan bahwa segala sesuatu ada di dalam tanganku, apa yang halal dan pahala dan azab dan bahwa aku adalah Al Qaim yang sedang ditunggu oleh ribuan Nabi, orang-orang pilihan dan orang-orang shaleh, dan bahwa aku adalah yang akan mengisi bumi dengan keadilan dan kesetaraan setelah sebelumnya terisi dengan tirani dan penindasan, maka kamu akan melakukan apa yang aku perintahkan dengan suka cita karena kamu tahu bahwa aku adalah dia (Al Qaim).”


(Artikel ini diambil dari https://www.youtube.com/watch?v=4le23a3tcyo&t=1593s dan dialihbahasakan ke dalam Bahasa Indonesia)

Salam, Mahdi l‘illettré ou ignorant. R-21. L[…]

T- La Table Servie.

Salam, La symbolique. T-14. Certains Musulma[…]

A- Nom nouveau du Mahdi.

Salam, La passation de pouvoir se fait d’homme[…]